6+ Contoh Puisi Hari Pers Nasional Terbaik dan Terbaru 2022

Hari Pers Nasional diperingati pada tanggal 9 Februari 2022 dimana waktu ini bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Persatuan Wartawan Indonesia, keputusan tersebut didasarkan atas Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985. Peringatan ini dapat digambarkan melalui contoh puisi hari pers nasional terbaru 2022.

Keputusan Presiden Indonesia Soeharto di tanggal 23 Januari 1985 menyebutkan bahwa pers nasional Indonesia mempunyai sejarah perjuangan serta peran penting dalam pelaksanaannya, hal ini berhubungan dengan pembangunan sebagai cara untuk mengamalkan Pancasila.

Dewan Pers berikutnya telah menetapkan Hari Pers Nasional dilakukan tiap tahun secara bergantian di semua ibukota provinsi di tanah air. Pelaksanaannya pun dilaksanakan bersama-sama antara masyarakat, komponen pers sekaligus pemerintah khusus terutama pemda sebagai tempat utamanya.

Landasan dari HPN adalah sinergi antara komponen pers antara pemerintah dan juga masyarakat, hal ini pun juga sudah tertera dalam untaian pita yang membentuk huruf HPN. Salah satu cara untuk memperingatinya yakni membaca beberapa contoh puisi mengenai hal tersebut.

baca juga :

Puisi Renungan Diri Menyentuh Hati
Puisi Untuk Teman Terbaru
Contoh Puisi Untuk Ibu Penuh Kasih Sayang

Puisi Peringatan Hari Pers Nasional Terbaik 2022

ilustrasi perlengkapan pers
ilustrasi perlengkapan pers, sumber gambar: merdeka.com

Berikut ini adalah beberapa contoh puisi hari pers nasional terbaru yang bisa Anda baca, hal ini penting untuk lebih mengenalnya sehingga menjadi cara paling jitu agar mengetahui berbagai hari penting di Indonesia.

Judul Puisi : Hari Pers Nasional

Jadikan segenap karya dan kiprah
Di media massa, cetak, dan elektronik
Tetap jernih, cantik, dan simpatik
Menyuguhkan hal-hal yang indah mulia
Seraya membangkitkan gairah

Sarat informasi yang akurat terpercaya
Mengandung edukasi yang berbobot penuh makna
Menghadirkan rekreasi yang sehat segar dan cerah ceria

Tetaplah punya misi mendidik meraih kedewasaan
Mencerdaskan dan mengarifkan
Memperluas barisan pikir panjang
Pantang menyebarkan tayangan sensasional
Tetaplah menjadi media yang berharga, jangan jadi gombal

Bebas merdeka penuh daya cipta
Menaati rambu-rambu etika
Mengawal peradaban dan budaya bermartabat
menyetiai hati nurani dan akal sehat

Judul Puisi : Demokrasi Media Massa

Tak semua wartawan profesional
diantaranya ada yang suka nakal
Fakta suka di putar
Demi dapatkan beribu keuntungan

wartawan tanpa surat kabar
Keberadaannya sudah dimana saja
Berkedok macam wartawan benar
pada akhirnya hanya untuk kesenangan

demokrasi media massa
bukan hanya penyampai informasi belaka
tetapi juga pengontrol semua lembaga
Punya kode etik yang mesti dijaga

Judul Puisi : Si Pemburu Berita

Di tengah panas terik matahari
Wartawan terus berjuang
Berjuang tak ada lelah
Badan legam tak dipandang

Kemana pun pergi
kamera setia menemaninya
tak lupa juga pena
Wartawan terus memburu berita

Gaji bukan persoalan
Asal kan itu halal
Bagi wartawan yang senang
Ketika tulisannya jadi pembicaraan

Judul Puisi : Biru Lautan Tak Seindah Perlakuanmu

Biru lautan tak seindah perlakuanmu
Keras ombak lambang kesombonganmu.
otak dan perilakumu tak lagi saling menyatu
Tak tau mana lawan dan mana kawan

Kau perisai bagi rakyatmu
kau juga duri dalam dagingku.
Mana janji tulus setiamu
yang tak kunjung kau tepati

Bila rakyat berani berkeluh
Itu artinya sudah gawat
bila omongan penguasa tak lagi dapat dipercaya
maka kebenaran pasti terancam

Judul Puisi : Apa Kabar Kekerasan Pers?

Oleh: Adam Makatita

Sudahkah keadilan itu bertatih;
Berjalan sesuai?
Ibarat bumi yang berputar tanpa letih
Pada poros yang tertata rapi.

Apa kabar kekerasan pers?
Sudah kah adil menyelesaikan
Bekas tamparan
Atau masih berlari keluar dari jalanan?

Aku masih menunggu kabar baikmu
Entah tentang keburukan-keburukanmu
Yang terpojokkan
Atau bahkan terpinggirkan pada emperan

Aku masih menanti senyum setiap hari
Senyummu terkungkung dibalik jeruji
Biar kau rasa bagaimana kebebasan dikunci
Biar menjadikan kau bijak tiada maki

Apa kabar kekerasan pers?
Masihkah kau dilarut-larutkan
Dalam tanya tak henti-henti
Ataukah kau telah dilemparkan bebas?

Sementara aku tak ingin
Ada tawa menggelegar
dari mulut busuk
Kaum munafik politik

Apa kabar kekerasan pers?
Sudahkah kemurnian kebebasan dikembalikan,
Ataukah masih ada senyum itu ditangani
Dalam perkara-perkara kata “Intimidasi”?

Kau harus tahu
Setiap Jarum jam berjalan
Melewati jantung waktu
Aku masih menanti kabar terbaik kebebasan

Jangan cipta gerutuku
Aku tak mau mereka bebas setelah
Kebebasanmu direnggut
Tuan-tuan politik tidak terdidik

Lantas, Baikkah kabarmu?
Aku ingin kebebasan-mu (pers) kembali
Seperti sedia kala
Dalam barisan jalan-jalan idealisme.

Ambon, 06 April 2018

Puisi selanjutnya dari Amir Machmud NS, S.H., M.H., Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah sejatinya memang juga seorang sastrawan dan penyair. Maka wajar bila tulisan-tulisannya dalam bentuk kolom atau esai, bahasa yang digunakan juga terasa nyastra, meskipun dengan topic olahraga (khususnya bola) dan bahkan tulisan-tulisan masalah politik. Simak puisi karya Amir Machmud NS, S.H., M.H.

SAJAK WARTAWAN (1)

kau bawa ke mana naskah itu
untuk kautiup dan kautebar
kepada siapa kau berkabar
mensyiar atau menguar
menerang atau merembang
di tengah kepung kepentingan
yang saling bersandar punggung
dengan arah berseberangan

kau tuliskah naskah
tanpa bersandar pilihan?
keputusan hati
untuk apa
untuk siapa
agar bagaimana
kaupilih tema
dan, layar kaubentang ke mana

semua menuntut paripurna
idealisme di ruang hampa
sebagian meminta kau jadi mereka
sebagian menarikmu ke sana
kau tahu pula
tak ada kepentingan yang rela
kau bermukim
di habitat bening semesta
tak ada kekuatan yang legawa
kau beri ruang yang sama

sekuat apa berdiri
di tonggak nurani
padahal kau bukan pertapa
padahal bukan pula si zuhud
yang memunggungi dunia
mengarungi keyakinan
menempuh idealisme
dengan hati liat
dengan jaminan hidup kuat
agar orang tak gampang melaknat

bijakkah meminta
wartawan istikamah mematung memperjuangkan kebenaran
jadi gantungan semua orang
dengan kondisi meriang
dengan masa depan mengambang.

SAJAK WARTAWAN (2)

kau punya semesta
yang tak mereka miliki
biarkan merasa
jadi panglima opini
dengan status-status seram
bombardir cuitan yang berlagak
instastory mau menang sendiri
lalu dunia mereka kuasai
salah-benar urusan nanti

jangan galau kau pilih profesi ini
yang seharusnya punya jalan sendiri
yang tak seharusnya kau lemahkan
dengan ketidakyakinan
hanya karena kisah rumah-rumah
yang tumbang satu per satu
dari sandyakala menjadi nyata
menyodorkan rembang masa
era yang bergerak
siapa mampu membendung arusnya?

masih luaskah semesta kita
menyulam konfidensi dan keteguhan
menjadi pilar kebangsaan
kita dipaksa bersikutat
dengan hari-hari muram
orang-orang memandang
tanpa kepercayaan

ada yang menanggalkan harga diri
memilih berkubu-kubu
atas nama afiliasi
membangun logika dan artikulasi
menyingkiri kebenaran asasi.

SAJAK WARTAWAN (3)

hari ini kita mahkotai profesi
yang telah memberi harga diri
dan, mereka yang membawa hati bening
hadir memberkati
dengan respeksi

puja-puji dan tepuk tangan
terkadang malah melilit perih
di sudut-sudut galau
di relung-relung risau

kita menjaganya
semesta hati semesta rasa
selapang jiwa menuang kebenaran
kita mengawalnya
sehiruk pikuk itu berebut ruang
akankah kita membiarkannya?

masih ada tarikan napas peduli
dan kita merasa punya sisa ruang
menindih suara-suara
menepikan sayat resah
untuk menegaskan
dengan suara bimbang
ini bukan profesi sembarangan

tepuk tangan dan puja-puji
hari ini
meraung pedih
bagai ayat-ayat yang menyayat
di sabana sunyi…

Semarang, 9 Februari 2022


Itulah tadi beberapa contoh puisi peringatan hari pers nasional terbaru yang bisa dibaca ketika sedang memperingati Hari Ulang Tahun Persatuan Wartawan Indonesia dan juga Hari Pers Nasional. Tentunya hal ini cukup penting terutama bagi seorang jurnalis.

Umumnya pelaksanaan Hari Pers Nasional pun dilakukan bersama-sama mulai dari komponen pers, pemerintah pusat dan daerah serta masyarakat. Kegiatannya pun beragam terutama untuk melakukannya dengan banyak pihak.

Irwin Day

Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu. Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat - "Catetan Th. 1946" - Chairil Anwar

error: Konten dilindungi !!