15+ Puisi Tentang Banjir 2 Bait, 3 Bait, 4 Bait yang Singkat 2022

Puisi Banjir Terbaru dan Terbaik 2022 – Banjir merupakan salah satu bencana alam yang terjadi ketika curah hujan tinggi selama musim penghujan maupun disebabkan karena kurangnya daerah resapan air, peristiwa ini memang terjadi secara alamiah sehingga manusia pun tidak bisa menghindarinya lagi.

Lain halnya jika banjir terjadi akibat kurangnya kepedulian dari masyarakat misalnya penumpukan sampah, membuang sampah di daerah resapan air dan lainnya. Hal ini sebenarnya dapat dicegah agar tidak terjadi khususnya pada saat musim hujan datang.

Bencana banjir pun sebenarnya tidak hanya terjadi di daerah kota saja namun juga bisa di kawasan perdesaan. Bencana ini disebabkan oleh beberapa faktor dan menimbulkan berbagai masalah baru setelahnya, bahkan di kota seperti Jakarta dan Bandung menganggap sebagai agenda tahunan.

Puisi tentang banjir yang banyak dijumpai di internet tentu menyimpan berbagai makna dan maksud menarik di dalamnya. Ada berbagai faktornya mulai dari topografi wilayah, intensitas curah hujan, daerah resapan air kurang luas dan tersendat, aliran sungai serta kondisi hutan telah terganggu.

Baca juga: Doa Kristen Saat Banjir

Puisi tentang Bencana Alam Banjir

ilustrasi banjir
ilustrasi banjir

Berikut ini contoh puisi tentang bencana alam banjir yang bisa Anda baca sebagai referensi dalam mengetahui terjadinya bencana alam tersebut, sebenarnya peristiwa ini masih bisa dihindari apabila dikarenakan kesalahan manusia seperti aliran sungai tersumbat akibat menumpuknya sampah.

Cobalah untuk saat ini mulai dengan hal-hal kecil agar banjir bisa dihindari seperti membuang sampah di tempatnya hingga menjaga daerah resapan air khususnya di musim hujan telah datang.

Judul: Rintih Bermain Air

Anak kecil disamping rumah,
Dengan ceria bermain air,
Menyepak dan menyembur,
Berlari dan berenang.

Awalnya aku terpukau,
Tapi kenyataan berkata lain,
Mereka sejatinya tengah merintih,
Tertawa dalam tangisan.

Pedih, mengiris dan duka,
Penyakit mengintai mereka,
Berada di sekeliling mereka,
Bahwa itu adalah bencana.

Bersabarlah sayang,
Maafkan Mereka,
Jadilah anak yang setia,
Untuk menjaga alam semesta,
Kala kau beranjak dewasa.

Jangan kau sesali,
Aku tahu kau belum mengerti,
Aku paham kau masih buta dan tuli,
Namun inilah yang terjadi,
Jadikan cobaan alam sebagai penyadar diri.

Judul: Ketika Sungai Berang

Setiap pagi kau mandi disana,
Begitu pula sorenya,
Bila masa kau libur,
Puluhan helai kain kau cuci,
Hingga pulang menyisakan buih.

Namun, sampah itu kau biarkan,
Mengalir dan terus mengalir,
Hingga menyumbati alirannya,
Sampai masanya kau sadar,
Bahwa air telah berang.

Jangan kau sesali,
Sesungguhnya ada suatu muak,
Rasa sabar yang habis,
Tertelan keegoisan manusia,
Tanpa ada peduli dan mau menjaga.

Rasakanlah,
Kala genangan membuatmu sulit,
Untuk berpijak dan melangkah di rumah.
Belajarlah,
Bahwa apa yang tanah,
Itulah yang kan dipetik.

Ketika air sudah berang,
Meluluhlantakkan yang dilewati,
Menghancurkan yang diterpa,
Hingga bisanakan yang kau sayangi.
Belajarlah.

Judul: Menunggu Hujan Reda

Sore ini, hujan begitu deras,
Menghantam bumi dengan ganas,
Sementara di seberang jalan,
Beberapa anak menari ceria,
Menikmati anugerah Yang Kuasa.

Padahal, cerita berakhir lain,
Di kala hujan reda,
Perlahan genangan mengalir jauh,
Tanpa komando tanpa patuh,
Tanpa iba menghajar yang rapuh.

Bagaimana tidak,
Tempatnya berlalu telah tertutup,
Sebab watak manusia yang enggan,
Memberi perhatian terhadap selokan.

Maka dari itu,
Tak perlu tangisi yang terjadi,
Jangan sesali kenyataan ini,
Semua takkan terjadi, bila manusia peduli.

Hingga hujan tiba lagi,
Genangan masih mengepung,
Mencuri seisi rumah,
Menghanyutkan secuil gairah,
Dari mereka yang mengharapkan sepercik cerah.

Judul: Kurangnya Terima Kasih

Tuhan mempersembahkan semua,
Tanpa meminta balas jasa,
Lalu kenapa banyak yang berdusta,
Tidak mensyukuri nikmat dari-Nya ?

Tak henti manusia merusak,
Mencemari air dengan membabi buta,
Seakan tanpa memperdulikan akhlak,
Hanya mementingkan hasrat bejatnya.

Sampah, dan kerusakan ekosistem sungai,
Tak bisa dihenti dan diderai,
Kekeruhan air terus melukai,
Keseimbangan alam menjadi kacau.

Kurang apa lagi?
Ya, kurangnya terima kasih,
Sesaat setelah sungai meluapkan amarah,
Menembus dinding memasuki rumah,
Kau malah mencari siapa yang salah.
Tanpa mau bercermin karena ulah.

Kurangnya rasa syukur,
Hingga saat tanahmu hancur,
Bumimu melebur,
Hanya air mata yang terguyur,
Belajarlah, sadarlah.

Judul: Terabaikan

Air terus mengalir, mengikuti arusnya,
Anak kecil riang gembira,
Melompat dengan hati bahagia,
Dengan temannya mengukir cerita.

Sementara di seberang sana,
Keserakahan manusia semakin nyata,
Hancurkan alam sambil tertawa,
Menguras habis sungai dan kekayaannya.

Anak kecil tadi hanya merenung,
Bertanya-tanya dalam hati,
“Apa yang dilakukan mereka?”
“Kenapa air sungai selalu keruh?”
Lanjutkan saya berenangmu.

Semua terabaikan dengan jelas,
Hanya luka yang hadir membekas,
Terpaksa menahan sembari ikhlas,
Tunggulah Tuhan memberi balas.

Puisi Banjir 2 Bait

puisi banjir 2 bait
puisi banjir 2 bait

Berikut ini contoh puisi banjir 2 bait yang menggambarkan bencana alam ini secara sederhana dan mudah dimengerti. Meskipun sudah sering terjadi di Indonesia, namun sebenarnya ada juga beberapa orang belum pernah mengalaminya.

Banjir yang sedang dialami saat ini terjadi akibat kendala utama yakni menumpuknya sampah di sungai atau bendungan sehingga tidak mampu menampung air hujan dalam jumlah banyak.

Judul: Sapuan Banjir

Alangkah lembutnya air
Di atas bumi dia menyusur
Dari atas ia mengalir
Ke dalam Bumi lalu melebur

Sayang bila air banjir
Sangat ganas saat menggilas
Menyapu bumi tanpa berpikir
Terjangannya amatlah keras.

Judul: Pesan Dari Banjir

Mungkin banjir memberi pesan
Yang tersirat kepada insan
Agar mereka mulai sadar
Sampah kotor jangan ditebar

Sungai bukan tempat sampah
Yang membuat air resah
Kemana harus mengalir
Akhirnya menjadi banjir.

Judul: Desaku Tenggelam

Desaku hampir tenggelam
Dipenuhi air hujan
Hingga ke atap rumah
Semuanya habis terendam

Keluarga dan tetangga
Akhirnya mengungsi juga
Ke tempat yang lebih aman
Lari dari kebanjiran.

Judul: Hujan Membanjir

Deras air dalam hujan
Sungai-sungai ke permukaan
Menjadi sebuah luapan
Karena sampah berserakan

Air hujan tak tertahan
Meluber ke pemukiman
Karena ulah manusia
Mengisi sungai dengan sampah.

Puisi Banjir 3 Bait

puisi banjir 3 bait
puisi banjir 3 bait

Contoh puisi banjir 3 bait seperti berikut ini dapat Anda baca dan pahami seksama guna mengetahui bagaimana sebenarnya yang dirasakan oleh korban banjir.

Tentu saja ada banyak kerugian yang telah dialami akibat keseluruhan tempat tinggal telah terendam oleh air banjir, mereka pun memilih untuk mengungsi selama beberapa waktu hingga air kembali surut.

Judul: Banjir

Semua ini salah siapa
Yang sembarangan membuang sampah
Hutan-hutan habis ditebang
Yang rimbun berubah gersang

Banjir melanda seantero negara
Alam bagaikan sedang murka
Semua ini peringatan dari-Nya
Sadar manusia semua ulah mereka

Cintailah alam sepenuh hati
Agar alam kembali asri
Walau hujan sedang bersemi
Air tak menggenang di sana sini.

Judul: Musim Hujan Telah Tiba

Musim hujan telah tiba
Air menggenang di mana-mana
Karena hutan telah tiada
Juga sampah yang merajalela

Pohon-pohon diganti rumah
Sungai air penuh dengan sampah
Itulah sebab datang bencana
Menerjang manusia tiba-tiba

Mengapa kita belum paham
Dengan isyarat dari alam
Semua ini ulah manusia
Yang tak terpuji penuh dosa

Judul: Puisi Banjir

Karya: Gumantinr

Musim penghujan telah tiba
Air menggenang di mana-mana
Karena pohon-pohon telah tiada
Karena sampah merajalela

Pohon digantikan dengan rumah
Saluran air dipenuhi sampah
Banjir pun datang dengan tiba-tiba
Membawa penyakit dalam bencana

Masihkah kita bisa tertawa
Ketika alam menunjukkan amarah?
Ketika anak cucu kita kelak
Hanya memperoleh bencana?

Puisi Banjir 4 Bait

puisi banjir 4 bait
puisi banjir 4 bait

Sebagai bencana alam yang sudah menjadi agenda tahunan di beberapa kota di Indonesia, dengan membaca puisi banjir 4 bait tentu menjadi salah satu cara bagi Anda untuk mengetahui bagaimana bencana ini bisa terjadi.

Ada banyak kerugian yang bisa dirasakan terutama mengenai kerugian materil. Selain itu, adanya air banjir juga meningkatkan pencemaran sehingga kondisi kulit harus benar-benar dijaga agar tidak terkena masalah baru.

Judul: Banjir

Deras mengucur air hujan
Turun dari celah awan
Mengguyur alam pedesaan
Membasahi perkotaan

Jatuh ia ke tepi sawah
Membasahi rumah-rumah
Jika hujan tak henti-henti
Tanda banjir sedang menanti

Kini air kebingungan
Karena tak ada akar
Sebab pepohonan telah ditebang
Digantikan dengan pertokoan

Air hujan hanya menggenang
Tak bisa meresap ke dalam bumi
Ia digelari dengan banjir
Oleh manusia masa kini.

Puisi Tentang Bencana Banjir Terbaru 2022

puisi tentang bencana banjir terbaru
puisi tentang bencana banjir terbaru

Berikut ini contoh puisi tentang bencana banjir di desa terbaru 2022 yang menggambarkan bencana ini terjadi, seringnya terjadi di Indonesia membuat warga ibukota dan kota-kota besar lainnya justru sudah mempersiapkan ketika memasuki musim penghujan.

Untuk itu, sebagai salah satu warga Indonesia yang jauh dari daerah rawan banjir, marilah bantu saudara sesama untuk membantu mereka sebisa mungkin.

Judul: Marilah Kita Merenung

Marilah kita mawas diri
Mengapa bencana alam sering terjadi
Bukankah Tuhan maha pengasih
Kepada hamba-hambanya yang di bumi

Bisa jadi terlalu berdosa
Maksiat di mana-mana
Hati manusia terpaut dunia
Lupa dengan tujuan sebenarnya

Marilah kita merenungi
Nanti kita di hari nanti
Bencana besar menanti
Akan dihisab setiap

Judul: Bencana Banjir

Hujan deras melanda kota
Tanah tak mampu menyimpannya
Sungai tak mampu menampungnya
Air datang dari segala arah

Kami panik
Kami ketakutan
Dan kami segera mengungsi
Ditempat yang lebih aman

Kenapa hal ini terjadi ……oh Tuhan
Namun ku sadari hal itu
Ternyata itu karena perbuatan manusia
Banyak pohon ditebang dan banyak sampah dibuang di sungai

Oh……. Tuhan
Surutkanlah banjir ini
Kami berjanji
Tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi

Judul: Banjir Pilu

Banyak tempat tergenang air
Menyebabkan bencana banjir
Suasana terasa sangat pilu
Menyesakkan isi kalbu

Tak terbendung air hujan
Memenuhi pelosok pemukiman
Banyak rumah yang terendam
Nasib penduduk begitu kelam

Hujan turun semua basah
Karena air sampai ke rumah
Di mana-mana begitu melimpah
Air bercampur dengan sampah

Mengapa orang sumpah serapah
Padahal itu karena tingkah
Memenuhi sungai dengan sampah
Pohon ditebang dengan serakah

Kini rumah kebanjiran
Pemerintah pula yang disalahkan
Kapankah mereka menyadari
Semua ini salah diri sendiri

Judul: Salah Kami

Banjir…
Akhirnya engkau pun datang
Walaupun tanpa kami undang

Airmu terus menerjang
Laksana ombak menghantam karang
Kami pun kalang kabut
Ketika engkau tak surut-surut

Memang semua salah kami
Yang lalai terhadap lingkungan
Selama ini kurang peduli
Untuk menjaga kebersihan

Baca juga:


Banjir menjadi salah satu bencana alam yang sering terjadi di Indonesia, hal itu membuat para warga harus selalu antisipasi setiap tahunnya. Tentu hal seperti ini sudah seharusnya diminimalkan setidaknya bagi masyarakat perlu mengurangi kebiasaan membuang sampah di sungai dan sejenisnya.

Puisi tentang banjir di atas menunjukkan bahwa ada banyak kerugian, terlebih jika terjadi selama beberapa hari tentunya akan berdampak pada kehidupan manusia hingga gangguan kesehatan seperti penyakit menular.

Bayu Kurniawan

SEO Specialist di Kristenly, berpengalaman lebih dari 4 tahun dalam SEO dan sangat tertarik pada seni dan digital marketing.

error: Konten dilindungi !!