15+ Puisi Tentang Kebakaran Hutan, Lahan, Rumah, dan Kabut Asap

Puisi Kebakaran Terbaru dan Terbaik 2022 – Kebakaran yang terjadi tentu saja akan memusnahkan bangunan apapun di depannya, tentu saja hal ini menjadi sesuatu paling menakutkan apabila dialami sendiri di rumah atau bahkan mengalaminya langsung. Pastinya kejadian ini tidak pernah terlupakan dan bahkan meninggalkan trauma mendalam.

Kenyataan ini tentu menjadi kejadian yang sangat menyakitkan apabila dialami. Bagaimana tidak, bukan hanya kerugian saja namun juga dampaknya akan berimbas kepada masyarakat setempat dan faktor, hal ini juga berdampak pada kesehatan akibat asap tebal telah menyelimuti kawasan sekitar.

Puisi tentang kebakaran tentu mampu menggambarkan sedikit kejadiannya sehingga bisa menunjukkan bahwa bencana ini memang sangat merugikan bagi siapapun, contoh kecil saja yakni ketika kebakaran rumah terjadi maka seseorang dan anggota keluarga akan kehilangan tempat tinggal.

Lain halnya apabila kebakaran terjadi pada kawasan hutan, tentu hal seperti ini akan menimbulkan dampak yang lebih parah lagi. Selain itu apabila hal ini juga merembet pada perekonomian karena difungsikan untuk kepentingan industri tentunya kerugian pun terhitung sangatlah banyak.

Baca juga: Doa Kristen Saat Kebakaran

Puisi Tentang Kebakaran Rumah

ilustrasi kebakaran
ilustrasi kebakaran

Berikut ini contoh puisi tentang kebakaran rumah yang bisa saja terjadi akibat berbagai hal, misalnya kelalaian penghuninya untuk menggunakan alat listrik dan sejenisnya hingga faktor konsleting listrik sehingga tidak dapat dicegah lagi.

Parahnya lagi ketika rumah tersebut berhimpitan dengan bangunan lain tentunya akan membahayakan rumah-rumah maupun gedung di sampingnya, mengingat bahwa api sangat mudah menyebar bahkan dalam waktu singkat saja.

Judul: Rumah yang Terbakar

Oleh Gina Nabila

Entah kapan mereka akan berhenti
Untuk terus menyakiti
Satu sama lain yang dulunya tak terjadi
Orang-orang yang aku sayangi
Kini sudah tak sama lagi

Amarah yang berapi-api
Sudah seperti sarapan pagi
Terjadi setiap hari
Tanpa ada yang ingin berhenti
Mengalah demi kedamaian dalam diri

Keluargaku yang dulu terasa berarti
Kini hanya sebatas hubungan tanpa arti
Yang terjalin tanpa ikatan emosi
Terpisahkan oleh tembok yang tinggi
Berjarak jauh dan saling terasingi

Untuk malam ini
Aku putuskan untuk pergi
Menjauh dari pemandangan ngeri
Yang merusakku hari demi hari
Aku akan kembali
Saat rumahku sudah tak terbakar lagi

Judul: Rumah Adat Yang Terbakar

Oleh Agus Thuru

Atap alang-alang boleh musnah
Dilalap kobaran api
Tapi roh leluhur tetap hidup
Menjiwa pada seluruh jiwa
Anak cucu keturunannya

Puing-puing bangunan Sa’o Ngaza *)
Menggores luka di kedalaman hati
Tapi tidak untuk meluluhkan hasrat
Karena jiwa dan raga anak keturunan
Masih kuat untuk kembali tegak berdiri

Ngadhu ) dan bhaga) boleh dilahap api
Lebur pada debu tanah leluhur
Tapi namanya tetap kuat tertanam
Dalam aliran darah para pewarisnya
Esok di saatnya dibangun kembali

Batu-batu magis di kuburan leluhur
Pada ture*) mesbah persembahan
Dan tiang batu bermakna nama besar
Akan tetap ada di kampung kesuburan
Menyongkong jiwa untuk bangkit.

Jiwa-jiwa tulus masih dilahirkan
Untuk menyusun kembali
Batu-batu yang berserakan
Menyulam kembali bilah-bilah kayu
Menjadi rumah bersemayam leluhur

Ritual-ritual akan tetap berakar
Di tengah cucuran keringat pengabdian
Kekuatan anak cucu suku keturunan
Akan mendirikan tiang yang kokoh
Dan leluhur merangkul dengan cinta

Kampung kita
Leluhur kita
Jiwa kita
Kehidupan kita
Selamanya tak akan termusnahkan

Judul: Pemadam Kebakaran

Wiu .. Wiu ..
Telah terjadi kebakaran
Orang-orang berkerumun
Si jago merah meronta-ronta

Pemadam kebakaran datanglah
Kami membutuhkan kalian
Seluruh rumah terbakar
Tidak ada yang selamat

Dengan gagah berani
Meraka melompat turun
Mengambil selang
Memjinakkan api itu

Pemadam kebakaran …
Terima kasih,
Dengan jasamu
Tidak ada korban jiwa

Puisi Tentang Kebakaran Hutan dan Lahan

ilustrasi kebakaran
ilustrasi kebakaran, sumber gambar: pexels.com

Berikut ini contoh puisi tentang kebakaran hutan dan lahan yang seringkali terjadi di musim panas akibat terik matahari dan gesekan daun-daun di kala terik, penyebab seperti ini memang tidak bisa dihindarkan lagi kecuali jika disebabkan oleh kelalaian manusia.

Kebakaran hutan yang sudah meluas tentu akan berdampak pada kesehatan manusia setempat karena menimbulkan asap pekat. Selain itu, udara juga telah tercemar dan membahayakan sistem pencernaan.

Judul: Hutanku yang Malang

Batangmu diselimuti bara,
Daunmu nyalakan api,
Akarmu kuncup tak terbata,
Pucukmu hangus ditelan mentari.

Oh hutanku, betapa malang nasibmu,
Tak tanggung manfaat yang kau beri,
Namun dengan tega mereka membunuh,
Kala kau tertidur dalam mimpi.

Oh hutanku, inilah takdirmu,
Tak lagi kita kan bertemu,
Betapa haru dan pilu hatiku,
Atas segala derita yang menimpamu.

Betapa iba hati mengingat,
Betapa panas api menyengat,
Kupadamkan dengan penuh semangat,
Meski kulitku terbakar dan pucat.

Namun tak urung semangatku,
Tak henti berpacu dengan waktu,
Angin kencang kian menggebu,
Melalap semua yang berlalu.

Oh, malangnya,
Dikala engkau mengais asa,
Hanya ada sisa-sisa bara,
Api kian membesar saja,
Engkau hangus sia-sia.

Judul: Para Pembunuh Asa

Pagi itu, aku terbangun,
Keluar rumah ingin menyentuh embun,
Ke belakang rumah menyapa kebun,
Mengusik daun-daun yang rimbun.

Sesampainya disana, aku baru teringat,
Ternyata hari-hari telah begitu pekat,
Pekat dengan kabut asap yang menyengat,
Melumpuhkan semua yang didarat.

Setega itukah para perusak,
Sesudi inikah membuat serak?
Sungguh aku tak habis pikir,
Betapa raga ini amat getir.

Bunga-bungaku layu,
Ditimpa kabut dan gumpalan debu,
Hasil hangusnya daun dan kayu,
Dari terbakarnya hutan-hutanku.

Hai, para pembunuh asa,
Tidakkah kau dengar teriakan rimba?
Tidakkah kau pedulikan rintihan manusia?
Mereka korban yang tak bersalah.

Judul: Tangisan Hewan

Teriakan semakin keras,
terdengar begitu mencadas,
Hewan-hewan memaki,
Mengutuk diri dan berlari.

Apa yang hendak dituju,
Sedang tangis kian pilu?
Kemana kau akan pergi,
Sementara sembilu menusuk hati?

Tidakkah tangisan hewan,
Mengetuk nurani kalian?
Tidakkah rintihan binatang,
Menyadarkan buruknya kehancuran?

Rumah-rumah mereka kalian bakar,
Tempat bermain dipenuhi api menjalar,
Kapan semua ini akan berakhir?
Bila lagi masanya senyum menghias bibir?

Tangisan hewan semakin menyorak,
Seduan mereka kian mengoyak,
Aku hanya bisa hening terdiam,
Mengintip takdir dari dalam kelam.

Judul: Hujan Tak Datang di Pesta Api

Oleh: Sugeng Joko Utomo

Menjelang tengah malam
Seluas langit pekat mengelam
Tak satu pun bintang mengintai
Tak juga bulan melambai

Kuncup-kuncup mawar rimba melayu
Tak lagi sabar menunggu
Hendak mereguk hujan merinai
Namun awan rebah terbantai

Menara duri semakin tinggi
Tanpa penyangga langsing berdiri
Berburu butiran embun
Berjingkat tinggalkan dedaun

Telinga merindu gemuruh petir
Kaki menunggu genangan banjir
Jangankan berbondong datangnya air
Setetes pun tak nampak hadir

Asap panas membangun istana
Bertiang api beratapkan mega
Deru dengkur bukan tidur lelah
Resah mengaum tersulut amarah

Wahai malam
Tetaplah kelam
Wahai siang
Usah kau datang

Pekat udara tiada mudah dibeda
Siang dan malam nyaris serupa
Hijau hutan musnah dibakar
Makhluk bernyawa rebah terkapar
Paru-paru bumi berasap sekarat
Paru-paru kita mampat tersumbat

Judul: Kami Rindu

Aku, dia dan mereka,
Pada satu asa yang sama,
Berharap pada mimpi bersama,
Yaitu rindua yang tiada dua.

Kami rindu langit biru,
Dimakan asap yang menggebu,
Ditelan kebakaran hutan yang mengendu,
Diselimuti debu yang memilu.

Kami rindu awan cerah,
Yang lenyap timbulkan resah,
Dengan terpaksa hadirkan gundah,
Yang sudi percikkan gelisah.

Kami rindu matahari pagi,
Kini kemana ia lari?
Dimana sinaranmu terpatri,
Nyatanya, hilang bak ditelan bumi.

Kami rindu semuanya,
Senyum, tawa dan gembira,
Kini semuanya telah sirna,
Sebab kejamnya ulah manusia jua.

Kini, yang tersisa hanya tandus,
Yang tertinggal kayu hangus,
Bagai pedang tajam menghunus,
Dengan kuat hati kamu tertembus.

Judul: Pasrah Ditengah Dendam

Tak bisa berbuat apa-apa,
Hanya diam, menunggu kobaran reda,
Belum sempat tumbuh, api telah membara,
Di hutan-hutanku tercinta.

Pasrah, hanya bisa berserah diri,
Atas apa yang melanda hari,
Gelap, berasap dan berapi,
Menghiasi segenap langit NKRI.

Terdiam dan membisu,
Menunggu angin membawanya lalu,
Menanti hujan kan mengguyur,
Semoga lekas derita melebur.

Dibalik itu,
Ada satu rasa yang amat kaku,
Yaitu dendam dihatiku,
Tak lekang dan bersarang utuh.

Ya Tuhan, tunjukkanlah kuasamu,
Berikanlah kami pertolonganmu,
Ditengah kobaran yang kian menggebu,
Kamu bosa bercengkrama dengan debu.

Ya Tuhan, haruskah aku dendam?
Haruskah asaku terus mengancam?
Padamkanlah, matikanlah,
Api-api yang semakin menjarah.

Judul: Mari Sadarkan Diri

Untuk semua yang telah berlalu,
Biarkanlah ia berlalu,
Namun, jadikan ia pelajaran,
Untuk kedepan sebagai pedoman.

Kini, marilah bersatu,
Rangkullah jemari tanganku,
Teguhkan pundakmu dan pundakku,
Hancurkan semua keraguan dihatimu.

Mari bersama bercermin diri,
Ayo bersama sadarkan hati nurani,
Untuk masa depan dimulai dari kini,
Mewujudkan lingkungan yang Harmoni.

Ratusan ribu hektar hutan musnah,
Pasti timbulkan rasa yang gelisah,
Namun yang sudah biarlah sudah,
Saatnya kita untuk berbenah.

Tancapkan niat kuat dalam hati,
Bulatkan tekat dan optimisme diri,
Mewujudkan lingkungan yang asri,
Jangan lagi biarkan tersinggung api.

Puisi Tentang Kabut Asap

puisi tentang kabut asap
Puisi tentang kabut asap, Sumber gambar: tempo.co

Kabut asap mungkin bisa terjadi akibat kebakaran yang sudah berlangsung selama beberapa jam dan sulit untuk dijinakkan, salah satu fenomena ini memang menjadi salah satu dampak dari kebakaran hutan dan lahan luas.

Berikut ini puisi tentang kabut asap mampu menggambarkan betapa menakutkannya apabila hal ini terjadi, tidak hanya mengganggu sistem pernafasan saja melainkan juga berdampak pada jarak penglihatan bagi makhluk hidup.

Judul: Tuhan, Aku dan Kabut Asap

Aku, tak berdaya,
Menatap alam sekitar,
Kupu-kupu tak lagi ria,
Capung terbang terombang derita.

Aku, mengikis sisa-sisa asa,
Ditepi relung penuh derita,
Akan kabut asap yang bawa luka,
Hanguskan hutan dan rimba.

Tuhan, sampai kapankah begini,
Apakah selamanya seperti ini?
Tumpahkanlah kesegaran bagi kami,
Untuk bernafas bebas setiap hari.

Tuhanku,
Kembalikanlah keceriaan anak-anak,
Ubahlah murung menjadi sorak,
Jadikan tawa pengganti teriak.

Lelah, padam an sesak,
Kabut asap menggiring dampak,
Atas segala yang terjadi,
Hanya Pada-Mu memohon perlindungan diri.

Judul: Tebalnya Kabut dan Harapan

Seakan semua sirna,
Kala malam perlahan tiba,
Aku menatap dari jendela kaca,
Tentang kisruh dalam realita.

Bak badai padang pasir,
Kabut dan asap perlahan mengusir,
Harapan besar tinggal segelintir,
Mengikis asa dihadapan takdir.

Sampai kapan seperti ini?
Apakah harapan akan mati?
Atau kabut asap yang segera pergi?
Entahlah, Biar Tuhan yang Menghendaki.

Yang jelas,
Sisa harapan kian mencadas,
Raut pilu semakin membekas,
Begitu tega kabut merampas,
Merebut bahagia tanpa batas.

Ya Tuhan, hilangkanlah musibah ini,
Padamkanlah semua Api,
Kami rindu sejuknya udara pagi,
Hanya pada-Mu kami berserah diri.

Judul: Tolong, Kembalikan Udara Kami

Setiap pagi, sore dan malam,
Kami bercengkrama dengan kelam,
Hari-hari kian memburam,
Bagai terjebak dalam padam.

Jarak pandang yang menyiksa,
Terbitkan keluh hadirkan derita,
Entah dimana ini ujungnya,
Menanti obat pelibur lara.

Ya Allah,
Kembalikanlah Udara kami,
Kami rindu suasana dulu lagi,
Dimana pagi bertatapan dengan mentari.

Ya Allah,
Datangkan kembali cerahnya hari,
Kami rindu keringat bahasi diri,
Yang datang dari lelahnya badan ini,
Kala bekerja di tengah hari.

Andai semua ini segera berakhir,
Tak tahu apa yang pastas terucap,
Untuk menggambarkan rasa terima kasihku,
Pada-Mu-lah kami berharap.

Tolonglah, Ya Allah,
Dengan tangan ternganga penuh pasrah,
Lewat sisa-sisa secuil gairah,
Kami memohon secercah cerah,
Untuk kembalinya hidup yang Indah.

Judul: Siapa Yang Bertanggung Jawab

Lalu,
Setelah semua peristiwa ini usai,
Setelah semua fenomena pilu ini larai,
Bagaimana nasib yang terbengkalai?
Apa kabar yang telah tercerai berai?

Diurus? Dibiarkan?
Atau bahkan dicampakkan?
Tolong beri kami jawaban,
Berikan kami sejenak ketenangan.

Siapa yang akan bertanggung jawab,
Atas segala perihal yang membuat pengap?
Kepada siapa kami mengadu,
Sedang rasa kian menyendu?

Beri kami keyakinan,
Beri kami pertanggung-jawaban,
Kami butuh pengakuan dan pencerah,
Atas nasib kami yang pasrah.

Itu saja,
Tidak banyak-banyak,
Kami juga butuh penjelasan,
Sebagai pengingat di masa depan.

Judul: Mereka Tidak Bersalah

Setelah semua musibah ini berakhir,
Ada 1 hal yang amat aku sesali,
Yaitu jiwa-jiwa yang tak bersalah,
Tak berdosa,
Dipaksa menerima kenyataan,
Yang amat pahit itu.

Mereka belum mengerti,
Belum siap tuk memahami,
Belum sanggup menghadapi,
Urung temukan jati diri.

Bagaimana tidak?
Kabut tebal begitu congkak,
Yang terdengar hanya suara serak,
Dari penyakit-penyakit yang marak.

Mereka tidak bersalah,
Belum tahu apa-apa,
Sebegitu tegah kalian menjarah,
Membakar hutan hingga ke tanah,
Dan sudi melihat mereka pasrah?

Tolonglah, Tolonglah mereka,
Jangan bunuh karakter yang ada,
Mereka masih butuh penunjuk arah,
Bukan jalanan yang tak terjamah.

Judul: Puisi Kabut Asap Sedih

Bergulung putih awan,
Beracun menapak tanah,
Mata perih dan nafas sesak,
Terengah-engah.

Membakar paru-paru dunia
Dengan sengaja,
Hanya untuk menambah harta.

Hanya karena demi rupiah,
Yang ingin terus bertambah-tambah,
Hutan tropis yang subur dan kaya,
Tak memuaskan hati pengusaha.

Kabut asap menyergap ke segala arah,
Melampaui batas kota negara,
Dunia mengencam dengan polus udara,
Pemerintah berupaya dengan segala cara.

Baca juga:


Itulah tadi beberapa puisi tentang kebakaran terbaru 2022 yang tentunya sudah pernah dialami oleh beberapa orang karena berbagai penyebabnya, hal ini pun bisa saja terjadi dikarenakan kelalaian manusia atau memang sebagai bencana alam seperti kebakaran hutan selama musim kemarau.

Ada banyak masalah kesehatan yang menjadi akibatnya khususnya mengganggu sistem pernafasan. Untuk itu, marilah menjaga lingkungan jika memang mampu meminimalkan resiko kebakaran itu terjadi terutama jika berdampak ke alam.

Bayu Kurniawan

SEO Specialist di Kristenly, berpengalaman lebih dari 4 tahun dalam SEO dan sangat tertarik pada seni dan digital marketing.

error: Konten dilindungi !!