17+ Puisi Renungan Diri Menyentuh Hati Terbaru 2022

Contoh Puisi Renungan Diri Menyentuh Hati Terbaru dan Terlengkap 2022 – Puisi renungan adalah bentuk puisi yang mampu mengingatkan Anda untuk selalu ingat dengan diri sendiri terlebih jika berhubungan dengan perasaan. Kini sudah banyak puisi untuk renungan diri yang menyentuh hati seringkali digunakan oleh orang-orang sebagai bahan merenungi kesalahannya.

Jadi banyak orang yang mengistilahkan jika hidup di dunia ini sebenarnya hanya mampir saja karena sangat sebentar. Dengan begitu, marilah untuk menggunakan waktu ini semaksimal mungkin tanpa harus menyia-nyiakannya saja. Cobalah selalu berbuat kebaikan dan memperbaiki diri sendiri.

Ingatlah jika hingga saat ini sudah banyak dosa yang telah diperbuat. Melalui puisi renungan ini, mari hantarkan diri untuk selalu introspeksi atas hal-hal telah lalu. Tentu hal seperti ini baik jika dilakukan secara rutin khususnya di akhir-akhir bulan atau bahkan akhir tahun.

Anda bisa menjadikan contoh puisi renungan diri menyentuh hati sebagai bacaan setiap harinya, jangan ragu untuk menyebarkannya di sosial media karena hal ini pun bisa saja dilakukan dalam rangka menyebarkan kebaikan kepada banyak orang.

Baca juga :
Puisi Teman
Puisi Untuk Ibu Penuh Kasih Sayang

Contoh Puisi Renungan Diri, Untuk Bahan Introspeksi

ilustrasi orang sedang merenung
ilustrasi orang sedang merenung, sumber gambar: burangir.com

Puisi renungan berisikan dengan banyak hal yang mengingatkan manusia untuk selalu ingat dengan segala kesalahannya. Sebagai umat manusia, bisa memahami beberapa contoh puisi renungan diri untuk bahan introspeksi berikut ini.

Judul : Mengaca Luka Dunia

Mengaca luka dunia
Karena tercabik-cabik ledakan bom yang menyulut api peperangan
Menghancurkan kemanusiaan dan keberadaban
Mendustakan cinta dan kesetiaan
Hati bergetar mengapa tega-teganya
Manusia memangsa sesama
Demi penyembahan nafsu dan angkara

Sudahlah, Sayang, jangan sampai kita
Turut serta menyalakan api
Yang sudah berkobar kemana-mana
Jadilah telaga bening tempat membasuh
Tubuh-tubuh lusuh belepotan debu dan peluh
Jadilah cahaya yang menerangi
Ketika jaman menjadi gulita kehilangan nurani

Mengaca luka dunia dalam hamparan lautan darah
Kemana lagi kita melangkah
Kalau bukan kembali
Keharibaan suci hati nurani
Membenahi bumi yang porak poranda
Oleh tingkah laku anak manusia
Yang brutal dan barbar
Sangat kita butuhkan kesediaan hati
Untuk saling memanusiawikan, menguatkokohkan
Tali silaturahmi,

Setia memegang amanat
Meluruskan yang bengkok, menjernihkan yang keruh
Hidup penuh nuansa damai jiwa, saling berkasih sayang
Menegakan pilar-pilar peradapan
demi ridho ilahi dan tergelarnya
Limpahan rahmat semesta alam

Sembuhkan luka dunia
Dengan cinta ilahi, sepenuhnya spiritual
Pada Allah pasrah dengan sesama
Penuh kelembutan hati kehalusan perasaan
Dengan solidaritas sosial yang kental

Judul : Ampuni Aku

Puisi islami yang pertama ini berjudul “Ampuni Aku” dimana dalam puisi ini si penulis merasa sebagai hamba Tuhan masih jauh sekali dari kehendak yang Tuhan inginkan. Tapi disisi lain sebagai seorang hamba, tidak luput juga dari pengharapan kepadaNya walaupun bergelimang dosa.

Tuhan…
Begitu sempurna dunia engkau ciptakan
Begitu luas langit engkau bentangkan
Begitu terang Matahari engkau terbitkan
Begitu indah bulan dan bintang engkau tampakkan

Tuhan…
Hamba datang dengan sejuta harapan
Hamba bersujud mengharap ridhoMu
Dengan ribuan dosa melekat ditubuhku
Ku bersimpuh mengharap ampunanMu

Tuhan…
Ampunilah segala dosa dan khilafku ini
Tunjukanlah jalan yang lurus, yang engkau ridhoi bukan yang engkau murkai
Aku bersujud memohon ampun kepadaMu
Ampuni aku…

Judul : Bagaimana Jika?

Puisi islami kedua ini merupakan momen ketika penulis memasuki alam pikiran secara mendalam. Hasilnya berupa bentuk-bentuk analogi didalam hidup. Kadang kita suka menyepelekan karunia Tuhan dikarenakan kita sudah terbiasa menikmatinya. Padahal kalau saja kenikmatan itu dicabut sebentar saja, kita pasti galau, dan merasa tidak nyaman.

Bagaimana jika Allah tidak memberkahi kita hari ini?
Karena kita tidak mau bersyukur kepadaNya

Bagaimana Jika Dia berhenti memberikan petunjukNya?
Karena kita terus membangkang dalam hidup

Bagaimana jika kita tidak mampu melihat indahnya bunga bermekaran
Karena kita terus menggerutu atas hujan yang Dia turunkan

Bagaimana jika Allah mengambil salah satu bagian tubuh kita
Karena kita tidak mau berterima kasih atas kesehatan yang kita dapat

Bagaimana jika Allah mengambil sebagian milik kita
Karena kita terlalu sombong dan angkuh atas lemahnya pengetahuan kita
Hidup di dunia, Renungkanlah…?

Judul : Ya Robb

Puisi ini merupakan hasil perenungan penulis atas kehidupan yang dijalaninya. Seringkali kita beribadah, menyebut nama Tuhan hanya sekedar dimulut saja (lips service). Tidak membawa nuansa Tuhan itu sendiri, sense of God nya tidak kita hadirkan didalam jiwa. Kita lebih mudah teralihkan oleh hal-hal yang bersifat rutinitas tanpa memasukkan sense Tuhan didalamnya

Atas derita yang kami terima, namaMu sering kami salahkan
Kami agungkan namaMu tanpa keihklasan dan kesadaran
Kami berharap akan kebebasan hidup, tetapi keagunganMu malah kami lupakan.

Berjuang untuk hidup mandiri dan bebas sesuai yang kami inginkan
Tetapi itu semua hanya menjauhkan diri dari kehadiranMu

Kesana-kemari kebutuhan kami kejar
Tetapi untuk mengingatMu saja lisan ini tidak pernah lancar

Siang dan malam, terik ataupun hujan kami tak pedulikan
Kami terlalu sibuk untuk urusan kami sendiri
Untuk hanya sekedar bersujud kepadaMu, kami tiada punya waktu..

Judul : Dhuha

Ada banyak sekali amalan mulia didalam Islam, salah satunya adalah waktu Dhuha. Puisi ini merupakan hasil renungan sang penulis tentang waktu Dhuha. Terkadang kita suka luput amalan-amalan yang mudah tapi penting dikarenakan sibuk ngurus kegiatan sehari-hari.

Jika saja di awal hari kita sediakan sedikit waktu untuk merenung, niscaya nuansa Dhuha bisa kita rasakan didalam jiwa. Tapi justru kita sering melewatkan kesempatan ini dipagi hari.

Untaian kasih di pagi hari
Hilir mudik silih berganti
Hari yang penat waktu yang padat
Mengais rezeki tak pernah henti

Mutiara pagi terabaikan
Mutiara pagi terlewatkan
Mutiara pagi tak pernah kita dapatkan

Dhuha..
Melebihi segalanya bagi sebagian orang yang berfikir
Jembatan pembuka pintu-pintu rezeki
Untaian kasih yang tak terkira
Mutiara pagi yang sangat bermakna

Dhuha..
Kami melupakanmu, karena kami sibuk
Kami tak bisa mendapatkannya kembali
Kami sibuk dengan dunia, tiada waktu untukNya..

Judul : Maut

Islam adalah agama yang sangat concern dengan kehidupan setelah mati, bahkan pilar iman seseorang itu salah satunya adalah mengingat kematian. Puisi ini merupakan hasil perenungan penulis tentang kematian itu sendiri. Semua berjalan cepat tanpa kita sadari bahwa maut sudah didepan mata..

Segala cobaan akan datang
Misteri ilahi tak dapat dihindari
Tanpa kita sadari
Satu demi satu semua akan pergi..

Siap tidak siap
Suka tidak suka
Maut akan tiba menyapa kita semua

Datang setiap waktu
Tanpa permisi
Tanpa pandang usia, muda atau tua
dan tanpa pilih kasih

Pergi tanpa permisi
Menghadap ilahi dengan amal suci
Meninggalkan ke fanaan dunia, berharap ridho ilahi

Umur hanyalah angka-angka yang sangat pendek
Akan berakhir cepat berlalu tanpa kita sadari
Tidak ada kepastian yang lebih pasti selain, Maut..

Judul : Esok Lebih Baik

Sebenarnya setiap orang sudah diberikan banyak kesempatan didalam hidupnya. Kesempatan untuk menjadi lebih baik lagi, dan kadang kita suka lalai terhadap waktu yang sudah diberikan olehNya. Puisi ini merupakan renungan penulis tentang keadaan up and down dalam kehidupan.

Terlarut dalam kekosongan
Tenggelam dalam kegalauan
lengah dalam lamunan
Terlena dalam kesibukkan

Pikiran melayang tak tentu arah
Terpaku dalam ketidakberdayaan
Khilaf dalam pusaran dosa
Menerawang kegelapan dimasa silam

Bangkitlah..
Tunaikan Sholat, dan bertasbihlah menyebut namaNya
Renungkanlah Al-Quran sebagai pedoman hidup dan obat hati
Semua masa kelam pasti dilewati, dengan sabar dan keyakinan penuh

Bangkitlah kawan, masa depan telah menanti
Giatlah bergerak untuk hari esok yang lebih baik
Jangan ragu dan bimbang, teruslah mencari dan kelak semua akan diberi

Hapuslah air mata kepedihan
Tapaki hari demi hari dengan kebesaran hati
Hidup tanpa kesedihan yang ada hanyalah kebahagiaan, dalam suka maupun duka
Sambutlah sang matahari dengan senyuman, karena hari ini lebih baik dari kemarin

Tunaikan tugas untuk kebahagiaan hati
Tersenyumlah untuk meringankan beban di hati
Dan bersabarlah demi kenyamanan hidup sehari-hari..

Judul : TakdirMu

Hidup di dunia itu selalu berubah-ubah, ada siang ada malam, ada waktu lapang ada waktu sempit. Semua itu hal yang normal karena kita hidup di alam yang berubah-ubah (dinamis). Ini semua merupakan konsep Takdir yang sudah Tuhan buat untuk kehidupan di dunia, sebagai sarana ujian untuk kita raih agar value kita sebagai manusia bertambah.

Tiap tangisan akan berganti dengan senyuman
Tiap ketakutan akan berganti dengan rasa aman
Tiap kegelisahan akan sirna berganti kedamaian

Tinta pena telah mengering
Lembaran-lembaran catatan ketentuan telah tersimpan rapih
Tiap perkara telah diputuskan
Takdir telah ditetapkan

Jangan bersedih..
Kematian ditangan Tuhan
Usaha dan upaya dilakukan, tapi semua kembali lagi padaNya

Hari berganti hari terus bergulir tanpa henti
Siang dan malam silih berganti tanpa letih
Sang Gaib akan tetap bersembunyi
Sampai waktu pertemuan itu tiba

Dalam kesempitan
Dalam kehampaan
Dalam kesusahan
Kita tetap bersujud kepadaNya
Berharap atas ridhoNya
Dan bersyukur masih dapat merasakan kehadiranNya

Judul : Lumbung Iman

Keyakinan seseorang menentukan sikap seseorang, ini merupakan hukum yang universal, sikap seseorang bisa dilihat dari seberapa banyak keyakinan yang mereka miliki. Keyakinannya lemah sikapnya sudah pasti lemah juga. Memperbanyak keyakinan terhadap Allah membuka banyak jalan dalam kehidupan, ga percaya..? cobain aja pertebal keyakinannya

Relung hati yang suci nan mulia
Tersirat butiran-butiran taqwa
Menyatu dalam qalbu
Mengurai semua pancaran iman

Tiada kata seindah namaNya
Budi pekerti yang begitu murni
Pancaran suara hati penuh arti
Melodi kata lantunan ayat suciNya

Terhampar sebuah kearifan
Terbentang sebuah kebenaran
meniti jalan ilahi untuk kedamaian sejati

Mutiara kasih tersusun di sanubari
Fatwa pujangga penuh makna
Butiran akhlak bijaksana menenangkan hati dan jiwa

Wahai jiwa-jiwa yang tenang
Tersimpan seribu bahasa kesabaran
Tertanam dalam keyakinan untuk mencari kebenaran

Judul : Koin Surga

Setiap orang menanggung beban amalnya sendiri-sendiri. Orang tua tidak menanggung beban amal anaknya begitu pula sebaliknya. Semua bertanggung jawab atas amalan masing-masing. Bahkan amalan yang kecil sekalipun bisa memiliki makna yang sangat berarti dihadapan Tuhan Sang pencipta.

Ramai jalan dipagi hari
Sesak nafas para peminta
Hilir mudik silih berganti
Pejalan kaki pun tak peduli

Ribuan uang terkantongi
Uluran tangan tak mengerti
Cemas dan gelisah menghias wajah
Dahaga dan lapar tak dapat dibendung

Dalam ragu dan bimbang berucap lirih
Tuan. Beri kami sedekah, beri kami sedikit nafkah
Recehan demi recehan terkumpul tak beraturan
Demi sebungkus nasi dan air untuk bertahan

Sesuap nasi menjadi janji
Setetes air menjadi sebuah doa penenang hati
Lemparan koin sangat berharga
Recehan demi jembatan surga kelak

Recehan tak ada nilainya
Tapi janji Tuhan begitu nyata
Jaminan surga bagi mereka
Mereka yang ikhlas dan lurus dalam beribadah
Surgalah ganjaran dariNya.

Judul : Aku Pada Diriku

Ada banyak jalan dilalui untuk mencari bahagia
Ada banyak langkah ditapaki untuk menggapai asa
Ada banyak cara dirangkai untuk meluahkan cinta

Setiap manusia memiliki jalan sendiri untuk dilalui
Setiap manusia memilih langkah sendiri untuk ditapaki
Setiap manusia mempunyai cara sendiri untuk dirangkai

Banyak jalan bukan untuk diperdebatkan
Banyak langkah bukan untuk diperhitungkan
Banyak cara bukan untuk diperbandingkan

Apakah senyum ukuran bahagia dan asa?
Apakah peluk dan cium ukuran cinta?
Terlalu banyak perdebatan
Terlalu banyak perhitungan
Terlalu banyak perbandingan
Mengharuskan diri menjadi pribadi yang berbeda

Ingatlah,
Banyak jalan yang tak senada
Banyak langkah yang tak seirama
Banyak cara yang tak sama

Judul : Puisi Renungan Diri

Oleh atomenulis.com

Hidup tak selalu indah seperti impian
Tak juga seburuk bagai pikiran gila kita
Hidup itu beragam dalam suka dan duka
Keringat ini bercucuran menempuh harapan
Biarkanlah proses ini menapaki pada jalan kehidupan
Sesuai arahan Tuhan dalam usaha dan doa kita

Diri ini tak sempurna, kita tahu itu
Lalu mengapa harus sedih yang meninggi
Jangan pula senang yang berlebihan klimaksnya
Diri ini perlu dipersiapkan
Siap tersenyum ketika suka dan duka
Siap menangis dan bahagia

Lihatlah kebawah untuk menggapai syukur
Dan lihatlah ke atas untuk siap berkompetisi
Sebab mengeluh bukan solusi
Masih banyak yang terpuruk selain kita
Banyak juga yang lebih bahagia

Itulah hidup yang alamiah
Itulah keadilan Tuhan bagi ciptaan-NYA
Maka, tak perlu mengeluh
Jika seribu kali kita gagal
Maka seribu satu kali kita bangkit
Usaha dan doa selalu jadi harapan
Sebab Tuhan tetap tersenyum bersama kehendak-NYA


Itulah tadi beberapa puisi renungan diri yang menyentuh hati terbaru 2022 yang bisa Anda jadikan sebagai bahan merenungi diri, hal ini tidak ada salahnya untuk dilakukan secara rutin dan teratur karena mempu memperbaiki dengan efektif terutama jika melakukannya di akhir tahun atau setelah bertambah umur.

Ada banyak tujuan yang bisa Anda capai jika seringkali merenungi diri sendiri. Selain itu, hal ini pun tentunya terasa sangat positif baik bagi individu masing-masing maupun lingkungan sekitarnya karena mampu menjadi pribadi lebih baik daripada sebelumnya.

Irwin Day

Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu. Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat - "Catetan Th. 1946" - Chairil Anwar

error: Konten dilindungi !!